Diam & Damai

Diam, berpura-pura tidak tahu tentang berisiknya kicauan burung yg saling bersautan.


Kadang, diam adalah pilihan yg tepat. Hanya saja kamu harus menahan kuatnya mulut yg ingin berucap. Menahan emosi hati dan ekspresi agar tetap terlihat baik-baik saja seakan memakai topeng tebal yg rasanya semakin lama semakin pengap untuk dipakai.


Jika kamu menemukan benang merah dari setiap ucap yg didengar, maka pilihlah apakah akan lebih baik jika membuka topik atau membiarkannya dan berharap kicauan akan berhenti dengan sendirinya~


Memilih diam dengan isi kepala penuh dengan kicauan yg saling bersautan tentu membuat sulit menentukan posisi. Jika bisa memilih, sedari dulu lebih baik tidak mendengarnya sekalian. Tentang apa yg terjadi, semua peristiwa yg telah lalu itu~ 


Kini, situasi membuat diri sulit, merasa bingung dengan tindakan yg dilakukan, menyimpan ragu, bertarung antara hati dan ingatan akan sebuah peristiwa yg di dengar.


Ya, memang tidak melihat secara langsung. Tapi, dengan hanya mendengarnya saja seperti harus memakai topeng berlapis-lapis untuk menutupi sebuah ekspresi yg tetap terlihat baik, agar tidak menaruh raut kecewa/ sedih/ marah dan ekspresi lainnya untuk menghindari "si pencerita" bisa mendefinisikan ekspresi alami yg muncul karena ceritanya~


Bukan tidak mau jujur, hanya saja untuk menjaga semua tetap berjalan baik~

Jika harus tersampaikan, biarkan semesta yg menunjukkannya. 


Tidak usah mengusik burung yg sedang tenang beristirahat di sangkarnya atau menambah beban burung yg sedang berusaha membangun sangkarnya. 


Biarkan diam, memberi damai~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meneropong Sudut Berbeda

Memaknai Cerita